Misteri Apa di Bukit Panderman?
Misteri adalah sebuah pembahasan yang tentunya berkaitan dengan hal-hal yang berbau mistis atau supranatural. Nahh kawan, kalian semua juga pasti sudah banyak yang tahu bahwa setiap tempat wisata tentu banyak cerita mistisnya baik mitos atau yang lainnya, dimana hal tersebut berkembang di tengah masyarakat. Hal tersebut juga berlaku pada sebuah bukit yang ada di Malang terutamanya Bukit Panderman. Dimana banyak sekali misteri yang ada pada bukit tersebut. Apa saja misterinya langsung saja, check this outttt⬇️⬇️
Bukit Panderman
Photo by https://www.kaskus.co.id/thread/5d839431b84088607b2388f7/misteri-dibalik-keindahan-bunga-edelweis-di-gunung-panderman
Cerita misteri ini berasal dari salah satu pendaki Bukit Panderman, ia bercerita mengenai "Misteri Bunga Edelweis di Bukit Panderman". Simak yaa kawann...
Foto Pendaki
Photo by https://www.kaskus.co.id/thread/5d839431b84088607b2388f7/misteri-dibalik-keindahan-bunga-edelweis-di-gunung-panderman
Kisah ini merupakan pengalamanku sekitar tahun 2010. Kala itu aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Bersama dengan 12 orang rekan DKR ( Dewan Kerja Ranting) melakukan pendakian di Bukit Panderman Batu Malang.
DKR seringkali melakukan kegiatan di luar ruangan. Baik outbound, hiking, maupun camping untuk melatih ketahanan fisik. Aku bersama 12 rekan yaitu Biastiti, Mega, Devi, Ima, Dani, Ryan, Puji, Aris, Novan, Wahyu, Kak Gito, dan Kak Hendrik memilih Bukit Panderman untuk melakukan kegiatan.
Perjalanan dimulai pukul 06.00 pagi disambut senyum sang mentari yang menambah semangat kami. Baru setengah perjalanan menuju Gerbang Panderman hatiku sudah berdebar-debar, perjalanan ini terasa menantang. Disamping jalanan yang berkelok-kelok dan menanjak, rasa kram di perutku seolah memberikan sensasi tersendiri. Aku lebih banyak diam dan berdzikir, tak seperti biasa yang yang banyak berceloteh.
" Woy! jangan melamun saja" gertak si Dani yang tidak biasa melihat ku terdiam sepanjang jalan.
"Menengo Dan, wasnoen talah dalane," balasku yang tak ingin diganggu siapapun.
("Diamlah Dan, lihat saja jalannya") balasku.
Kemudian Dani bercengkerama dengan teman-teman lain. Biastiti nampak paling bahagia, mungkin karena Ini pengalaman pertama baginya.
°°°°
Semilir angin dan hawa sejuk pegunungan menyambut kedatangan kami di gerbang pintu masuk. Begitu selesai menitipkan kendaraan kami bergegas menuju puncak.
Kak Gito, begitu kami memanggilnya. Sebagai pendamping sekaligus pembina, Kami lebih akrab memanggil Kang Gito. Beliau memberikan arahan sebelum kami melakukan pendakian.
" Rek, saiki awekdewe wis ono nek Gunung Panderman, aku wis pesen sak durunge kan. Opo? Ojo ngerusak, jaga sopan santun, ojo ninggalno resek" pesan beliau
("Teman, sekarang kita sudah berada di Bukit Panderman, saya sudah berpesan sebelumnya kan. Apa? Jangan merusak, jaga kesopanan, dan jangan meninggalkan sampah " pesan beliau).
"Mengko awekdewe ngasuh nek pos pertama, sholate nek Pos Latar Ombo wae" tambahnya.
("Nanti kita istirahat makan di pos pertama, dan sholat di Pos Latar Ombo.")
"Mengko sholat nek puncak wae, Kang " Novan menyela pembicaraan".
("Nanti sholatnya pas di puncak saja, Kang.")
"Ya.. ndelok mengko wae. Nek kabeh tahes iso lancar yah sholat nek puncak," jawab Kang Gito.
("Ya.. lihat nanti saja. Kalau semua sehat bisa lancar sholat di puncak,").
"Siiiaaap Kang " imbuh Aris.
"Wis Rek, timbang kesuwen ayo ndang ndungo terus munggah. Aku wis ra kanti arep ndelok endahe Malang teko nduwur" sambut Mega memecahkan perselisihan.
("Sudah, daripada semakin lama Mari kita berdoa dan lekas naik. Aku sudah tidak sabar melihat pemandangan Malang dari atas").
Desir angin dan kicauan burung di dahan menambah semangat langkah kami dan sejenak mengalihkan rasa dingin menuju puncak. Namun, semakin lama kami berjalan hawa dingin kian menusuk tulang dan membuat ritme langkah kami melemah. Ditambah dengan tetes embun pegunungan semakin menambah basah suasana, meskipun jam di tanganku baru menunjukkan pukul 10.12 pagi.
Napas kami mulai tersengal, menatap ke depan masih jauh. "Sedikit lagi kita sampai di Pos satu" ujar Kang Gito memberi semangat. "Bentar Kang, istirahat dulu" sahut Wahyu sambil melihat ke arahku yang tak banyak bicara dari tadi.
Entah mengapa perjalanan kami serasa berat, meskipun medan yang kami lalui di jalur ini tidak begitu menantang seperti pada pendakian lainnya.
"Kang, nda ada jalan pintas tah?" cetus Ima yang bertanya dalam candaan.
"Ada, tapi jalannya sulit. Kita ikut rute saja" jawab laki-laki yang berawakan tinggi hitam itu.
"Ayo Kang, lewat situ saja biar lebih cepat" sahut Si Puji sambil bergegas berdiri dan mengajak yang lain, meskipun belum ada kata sepakat untuk melaluinya.
Kami mengambil jalur kanan dari pendakian, sambil bercanda kami terus melangkah dengan harapan lekas sampai. Embun pegunungan kian menyelimuti seluruh pandangan kami. Siang hari yang harusnya terik berubah menjadi gelap, makin lama makin pekat. Tidak ada tanda-tanda menuju puncak, yang ada hanya lebatnya hutan dan tanaman belukar yang menghadang. Sesekali kami bertemu dengan monyet yang bermain di pohon besar.
"Kang iki nyasar tah?" tanyaku.
("Kang apa kita tersesat?")
"Ketoke iya Ning. Biyen nek kene dalane, saiki dadi alas ngene."
("Sepertinya iya Ning. Dulu disini jalannya, sekarang berubah jadi semak belukar").
Kata-kata Kang Gito membuat kami semakin was-was, ditambah lagi suasana yang semakin lama makin gelap dan membatasi jarak pandang kami.
Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke jalur pendakian.
Aku mulai merasakan hal yang tak beres, bulu kuduku sesekali berdiri. Merinding, tapi bukan karena dingin. Ah, perasaanku saja mungkin yang terlalu parno menghadapi ini. Sedangkan teman-teman terus bercengkrama untuk mencairkan suasana.
Pukul 4 sore Kami mencapai puncak, jauh diluar bayangan kami yang berharap lebih cepat. Rasa lelah, letih, lesu, lapar yang kami rasakan terbayar dengan rasa senang dan bahagia saat sampai di puncak. Kami pun bergegas mendirikan dua tenda dan tetap menjaga satuan terpisah setiap kegiatan. Segera kami mengumpulkan kayu bakar dan membuat perapian, karena hawa dingin kian menusuk dalam tulang.
°°°°
Senja di ufuk pertanda masuk waktu Magrib, teman-temanpun bergegas untuk melaksanakan salat. Sekalipun tidak mendengar suara adzan, tanda alam sudah menunjukkan waktu pada kami. Aku yang tidak melaksanakan salat mempersiapkan makanan bersama Mega yang kebetulan waktu itu masih beragama Nasrani.
Menggunakan kompor portable kami menyiapkan makanan ala anak gunung, mie instan dan sayur, serta kopi. Kopi yang baru saja mendidih berubah seketika menjadi dingin. Tak bisa kuingat betapa dinginnya suhu di sana.
°°°°
Tak seperti biasanya, Mega yang suka bernyanyi di depan api unggun kali ini langsung masuk ke tenda. Aku pun demikian, diikuti oleh Devi. Sedangkan teman-teman yang lain menikmati suasa perapian. Sekalipun jam tanganku masih menunjukkan pukul 18.45, aku tak peduli, rasa dingin yang aneh ini membuatku ingin segera menyusuri pulau kapuk.
Tak menunggu waktu lama, akupun sudah tak sadarkan diri.
Entah sudah berapa lama aku terlelap. Saat terbangun dan kubuka mata seperti ku merasa ada yang berbeda, akupun mulai bingung. Suasana berubah menjadi hening, kulihat seisi tenda hanya aku seorang diri. Masih tercengang, coba kuyakinkan diri bahwa ini hanya mimpi, tapi sia-sia karena ini bukan mimpi. Lantas kemana teman-temanku?
Kucoba mengintip ke luar, ada sekelebat banyangan, aku kaget dan coba melihat kembali ternyata teman-teman yang tertidur di depan api unggun. Terlihat Dani, Ryan, dan Biastiti masih terjaga. Tuh kan cuman perasaanku saja yang terlalu parno, kemudian bergegas melanjutkan tidur seorang diri dalam tenda.
°°°°
kukurikuk..kukurikuk..kukurikuk..
Suara alarm handphone membangunkanku...
Aaaaaaaaggggghhhhh.... kubuka mata dan mematikan alarm. Sekujur tubuhku serasa berat, mungkin karena terlalu lama menyusuri pulau kapuk.
Waktu beranjak subuh dan bergegas kubangunkan teman-teman di luar. Satu persatu kuhampiri mereka. Begitu mendekati Bias, dia langsung melompat menghindariku. Dengan muka pucat pasi seperti ketakutan dia menjauh dan tak berani menatapku. Entah apa yang terjadi padanya, mungkin dia masih setengah bermimpi, pikirku..
°°
Tok..tok..tok.. Kang Gito mencabut pasak tenda. Aku kaget bukan kepalang, karena rencana awal kita akan berkemah selama 2 malam.
Melihat ekspresi bingungku, Kak Hendrik menghampiri, "hari ini kita pulang lebih cepat dari jadwal. Nanti sampai gerbang kita bahas agenda selanjutnya."
Entah apa yang mereka sembunyikan, aku sih ngikut saja keputusannya dengan perasaan sedikit kecewa. Selepas sarapan kami berkemas untuk kembali, tak lupa pula kami mengabadikan moment ini dengan foto.
Langkah ini terasa berat, mungkin karena belum sepenuhnya terpuaskan menikmati keindahan Gunung Panderman ini. Begitu sampai di Watu gede bembusan angin terasa sangat kencang. Hawa dingin dan rasa aneh menghampiriku kembali, tapi coba kutepis sama halnya seperti perjalanan menuju puncak kemarin.
Akupun terkesima melihat bunga edelweis yang membuatku melupakan rasa was-was yang sedari tadi menghampiriku.
cekreeek..cekreek.. kuambil pose demi pose di bawah pohon edelweis, bersama Aris dan Mega. Tiba-tiba kulihat monyet melompat dari dahan pinus, dengan sigap kuabadikan moment itu.
Lagi asyiknya berburu foto, tanpa sadar teman-temanku telah menghilang. Akupun bergegas berlari dan menghampiri mereka.
Perjalanan menuruni gunung terasa lebih cepat, mungkin karena kita sudah mengetahui medan yang akan dilalui.
Begitu sampai di gerbang masuk kami merasa ada yang kurang.
"Loh, Aris mana?" tanya Fidin yang dari tadi memperhatikan kami berfoto.
Saling menatap, saling mencari..
Aku pun tidak tahu kemana Aris karena tadi dia dan Mega meninggalkanku sendirian.
"Uda tungguin aja, palingan dia pipis" ucap Puji.
Satu jam kami menunggu tapi Aris tak kunjung terlihat. Akhirnya Kang Gito dan Puji memutuskan untuk kembali menghampiri Aris. Selang beberapa lama mereka datang, namun tanpa Aris.
Aku mulai cemas, sedangkan si Biastiti tak henti-hentinya menangis bahkan semakin histeris kala melihatku.
Perasaanku bercampur, aku terus bertanya-tanya apa yang salah?
Bahkan belum sempat menanyakan alasan mengakhiri perkemahan ini.
°°°°
Satu hari Aris menghilang. Kami terus melakukan pencarian dibantu penjaga gerbang. Sedangkan kami para perempuan tinggal di posko menunggu kabar. Hingga hari ke-2 pencarian. Aku tak berani mengabarkan pada keluarga perihal hilangnya Aris. Hanya mengirimkan pesan singkat, kalau kami bermalam di rumah Kang Gito di Batu karena terlalu capek.
Bagaimana kalau Aris tidak ditemukan? Pikirku makin ketakutan.
Ditengah kebingunganku, terlihat Aris berlari kencang. Masih tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Bukan mimpi, Aris benar-benar kembali.
Aku senang bukan kepalang dan segera menghubungi teman-teman yang melakukan pencarian.
"Tego umak yah, kancane ditinggal," sapa Aris.
("Tega kamu yah, temannya ditinggalin").
Belum sempat kuajukan pertanyaan, dia telah memulai percakapan.
Biastiti yang melihat Aris makin menangis dengan kencang.
"Lapo sih kok lebay" kata Aris seolah tidak terjadi apapun padanya.
Akupun menceritakan kronologinya, Aris seolah kebingungan. Dia justru bercerita bahwa baru saja berfoto denganku dan juga Mega di pohon edelweis. Kemudian mengikutiku ke spot foto yang bagus. Namun semakin lama semakin jauh dari rute. Dia pun bercerita bertemu dengan segerombolan monyet seperti yang kualami, tapi begitu dia mengambil foto monyet tersebut dia tak lagi melihatku dan Mega, akhirnya sambil menggerutu dia memutuskan turun.
Aku sampaikan mengenai kebingungan kami yang mencari keberadaannya selama 2 hari ini. Seolah menganggap kami mengigau, dia membuka galeri untuk melihat foto-foto yang baru saja dia ambil. Benar saja, ada foto di pohon edelweis seperti yang dia ceritakan, namun hanya foto bunga dan pohonnya, serta tangan yang memegang bunga. Kami pun sontak bergumam karena dia telah memetik bunga itu. Dia makin kebingungan, karena semua bertanya dari mana dia selama 2 hari ini.
Biastiti yang dari tadi menangis mulai bercerita tentang apa yang dia lihat waktu di puncak. Suatu hendak tidur dalam tenda, ia melihat sesosok mahluk tidur disampingku, dia gemetar dan ketakutan, bahkan dia sempat pingsan setelah membangunkan Devi. Begitu pula dengan Wahyu dan Kak Hendrik yang didatangi sosok kakek sewaktu teman-teman sedang asyik bercengkrama di perapian, yang memperingatkan kami untuk segera pergi.
Akhirnya Pak Gondo selaku penjaga gerbang yang turut serta dalam pencarian bercerita. Watu Gedhe merupakan lokasi pasar bagi para penunggu Panderman yang dijaga oleh kakek berusia ratusan tahun, bernama Joyokerto. Dimana dia merupakan abdi dari Prabu Bayu Persodo yang diyakini menjadi penguasa Gunung atau Bukit Panderman. Joyokerto paling tidak suka jika habitatnya terusik.
Entah mitos atau fakta, kami hanya mendengarkan penuturan beliau. Kami bergegas kembali ke rumah dengan berbagai kesan di benak. Sungguh suatu pengalaman yang tak pernah terlupakan, serta pelajaran yang paling berharga dalam hidup kami. Dalam pendakian kita harus tetap menjaga akan keberadaan teman dalam kelompok, menjaga kelestarian lingkungan, dan mentaati peraturan dalam pendakian agar terasa menyenagkan.


haduh jadi ngeri min btw saya pernah jelajah disana loh
BalasHapusWahhh bisa banget nihh di share pengalaman apa yang pernah dirasakan saat berlibur ke Bukit Panderman kak Yus? apa pernah mengalami seperti cerita diatas?
HapusKerennn kak ikut merinding aku bacanyaa! Aku termasuk penggemar cerita² mistis para pendaki, rasanya seperti hanyut dalam ceritanya kak. Mantapp sihh ditunggu postingan menarik lainnya kak! Semangattt
BalasHapusHayy kak Afri, selamat datang di blog Wisata Bukit Cantik di Malang Raya. Wahh senangnya kalau postingan di blog ini membawa manfaat untuk para pembacanya hehehe. Siapp kak Afri, pokoknya stay tune postingan berikutnya di blog Wisata Bukit Cantik di Malang Raya yaaa. Thank youu kak Afri🙏
HapusNgeri sii, tapi untunglah masih ketemu ya kak si arisnya. Foto diatas ada 1 anak yang wajahnya ditutupi, kenapa ya kak ? Hehe ditunggu kak penjelasannya
BalasHapusHay kak Ocha, selamat datang di blog Wisata Bukit Cantik di Malang Raya. Emmm kalau soal pertanyaan itu saya sendiri juga kurang tahu ya kak, karena dari sumber yang saya peroleh tidak ada kejelasan mengenai hal tersebut. Tapi jika saya boleh beropini, mungkin si anak tersebut tidak ikut serta dalam pendakian ke Bukit Panderman, sehingga orang yang upload foto tersebut harus mencoret"wajah anak perempuan itu. Atau bisa jadi dia hanya ikut berfoto saja dengan teman"yang lainnya sebagai kenang"an sudah bisa menginjakkan kaki di bukit nan cantik dan indah Bukit Panderman. Mungkin seperti itu kak kalau dari pendapat saya, semoga menjawab pertanyaan kak Ocha yaa. Thank youu kak🙏
Hapusudah lama gak baca cerita mistis pendaki, ditunggu postingan berikutnya kak ^^
BalasHapusHello kak Ester, selamat datang di blog Wisata Bukit Cantik di Malang Raya. Wahh senangnya kalau postingan di blog ini bisa jadi bahan bacaan kak Ester hehehe. Jangan lupa untuk selalu stay tune postingan berikutnya di blog Wisata Bukit Cantik di Malang Raya. Thank youu kak Ester🙏
Hapus